Belajar Khusyu’

Sering kita mendengar pertanyaan seputar khusyu’. apakah itu khusyu’? bagaimana agar bisa khusyu’? dan masih banyak lagi yang lain.

Ciri-ciri orang beriman dalam surah Al-Mu’minun. Salah satunya adalah apabila shalat, maka shalatnya itu khusyu’. Berikut kutipannya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Telah beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang di dalam shalatnya khusyu’. (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Dalam sebuah tulisan tentang sebab turunnya ayat ini yaitu :

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa dahulu Rasulullah SAW bila shalat mengarahkan pandangannya ke langit. Maka turunlah ayat: yaitu orang yang di dalam shalatnya khusyu’. Maka beliau menundukkan pandangannya. (HR. Al-Hakim).

Dari Hadist diatas kita seolah di beritahukan bahwa kyusu’ itu bukan hanya mengarahkan pandangan ke langit atau hanya gerakan dalam bentuk fisik, tapi lebih jauh dari itu adalah kualitas shalat yang kita lakukan, konsentrasi yang dalam dengan bacaan yang tuma’ninah dan tenang (tidak tergesa-gesa). Hal demkian berfungsi untuk mengontrol fikiran kita agar mencapai kesadaran, serta pemahaman yang tinggi tentang kebenaran Allah SWT.

Khusyu’ dalam sholat itu dapat termanifestasi dengan baik jika kita khusyu’ juga sebelum melakukan sholat. diibaratkan lomba lari sprint atau olah raga lain baiknya ada pemanasan hingga pada saat lomba berlangsung tidak akan terjadi kekakuan, kram atau kontraksi yang tidak dinginkan. Dalam konsep ibadah saya sempat mengambil satu kesimpulan atas pelajaran tentang sholat dalam satu kalimat “peliharalah/perbaikilah Sholat dan ibadah diantara waktu sholat fardhu”. Untuk memperbaiki sholat harusnya kita menjadi baik dulu sebelum sholat, selain menjaga waktu shalat fardhu juga kita sebaiknya menjaga aktifitas diantara jeda shalat fardhu, antara shalat subuh dengan Duhur, Duhur dengan Azhar, Azhar dengan Magrib, Magrib dengan Isya, serta Isya dengan Subuh. Adapun niat, whudu dan hal-hal baik sebelum shalat bertujuan untuk menyatukan hati dan fikiran kita dalam ketenangan agar satu kata menuju ilahi rabbi.

Pada Tulisan sebelumnya Buka puasa pertama di Pesawat, hal yang saya sadari kemudian bertanya-tanya dalam benak “Apakah perlu saya merasa Dongkol?” sesaat setelah berbuka puasa. Kalau kita coba buka-buka wiki Dongkol bisa berarti “Mangkel, Kesel” yang kadang muncul jika dalam situasi seperti percakapan hati berikut “Orang lain kok cepet banget dilayani, aku dah minta dua kali kok belum juga, malah yang ngga minta dilayani”.. hmm. Memang seharusnya itu tidak terjadi sebab boleh jadi hal itu akan mengganggu ibadah sholat fardhu yang berikutnya, untung saja cepat disadari kalau tidak akan menjadi aksi yang tidak menyenangkan. Maha besar Allah dengan segala kemurahannya, pernah mendengar satu hadist atau kata hikmah yang maknanya bahwa lintasan hati atau niat yang buruk belum dicatat sebagai dosa jika belum di implementasikan, itu jika cepat-cepat di taubati. Dalam hidup didunia ini apalagi kondisi carut-marut seperti yang kita alami sekarang, mengenai kondisi negaralah, BMMlah, ekonomi keluarga dan lain-lain akan membuat kita jika tidak cepat-cepat mengembalikan kepada Yang Esa, dalam artian berserah diri kepada-Nya dalam segala kondisi akan membuat dongkol merajai selaksa hati dan fikiran, yahh ujung-ujung akan tahu sendiri pasti shalatnya tidak khusyu’. Karena ketidaksempurnaan manusia, sebab kita belum menjadi manusia Muhammad dimana kita tidak bisa pungkiri bahwa di dunia ini manusia yang paling khusyu’ adalah Muhammad SAW, maka Isthigfar adalah salah satu cara untuk menguranginya atau bahkan menghilangkannya. Serta tidak lupa untuk mengikuti shalat nabi sebagai mana sabdanya “, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Namun gambaran shalat khusyu’ itu menurut Ahmad Sarwat, perlu kita pahami secara lebih luas, tidak terbatas pada bentuk-bentuk yang selama ini umumnya dipahami orang. Sebab kenyataannya begitu banyak fakta yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat dengan berbagai keadaan, di antaranya:

  • Rasulullah SAW pernah shalat sambil menggendong bayi
  • Rasulullah SAW pernah memperlama sujudnya, karena ada cucunya yang naik ke atas punggungnya
  • Rasulullah SAW pernah mempercepat shalatnya saat menjadi imam, hanya lantaran beliau mendengar ada anak kecil menangis
  • Rasulullah SAW memerintahkan orang yang shalat untuk mencegah seseorang lewat di depannya, bahkan menghalanginya.
  • Rasulullah SAW pernah memerintahkan orang yang shalat untuk membunuh ular serta hewan liar lainnya.
  • Rasulullah SAW saat menjadi imam pernah lupa gerakan shalat tertentu, bahkan salah menetapkan jumlah bilangan rakaat, sehingga beliau melakukan sujud sahwi.
  • Rasulullah SAW mensyariatkan fath kepada makmum bila mendapati imam yang lupa bacaan atau gerakan, sedangkan buat jamaah wanita cukup dengan bertepuk tangan
  • Rasululah SAW mengajarkan shalat khauf dengan berjamaah yang gerakannya sangat unik dan jauh dari kesan khusyu’
  • Rasulullah SAW pernah melakukan shalat di atas kendaraan (hewan tunggangan/ unta) yang berjalan, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, beliau membiarkan tunggangannya menghadap kemana pun
  • Rasulullah SAW pernah memindahkan tubuh atau kaki isterinya saat sedang shalat karena dianggap menghalangi tempat shalatnya
  • Rasulullah SAW mengajarkan orang yang shalat untuk menjawab salam dengan isyarat

Belajar dari peristiwa Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw. Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi Saw. bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).

Begitulah kiranya Rasulullah mengatasi mengantisipasi rasa dongkol agar tidak bersarang di hati dengan berdoa dan kembali kepada Allah SWT.

Dalam bukunya Majmu al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa khusyu dalam shalat dapat timbul karena dua hal : 1). Karena keinginan yang kuat, 2). Kemampuan mengatasi rintangan. Keinginan kuat dimaksudkan kesungguhan seseorang dalam merenungkan, memahami, dan menghayati ucapan dan bacaan dalam shalat, dengan keyakinan bahwa dia saat shalat itu sedang berkomunikasi dengan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah tentang makna al-ihsân: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya, dan jika Engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (H.R. al-Bukhârî). Kemampuan mengatasi rintangan maksudnya adalah tekad yang kuat untuk menolak segala hal yang dapat melalaikan hati dari tafakur dan berzikir kepada Allah selama menunaikan shalat. Menghindarkan perasaan was-was (keraguan) dalam shalat karena gangguan nafsu syahwat.

Saya pikir tulisan ini adalah awal dari diskusi kita, mari kita sama-sama belajar untuk khusyu’, Khusyu dalam segala aktifitas kehidupan. dan semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang lalai dalam sholatnya yaitu orang-orang yang tidak memberi makan fakir miskin dan menghardik anak Yatim sebagaimana yang tertulis dalam Al qur’an.

Wallahu a’lam bishshawab,

wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Erwin, Rawas, Selasa, 9 September 2008

Advertisements

About Erwin

Hanya mengikuti air..
This entry was posted in Ramadhan and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Belajar Khusyu’

  1. U&I says:

    Tulisan yang menarik….

    Untuk membahas masalah khusyuk, rasanya lembaran ini tidak akan cukup karena ada banyak faktor yang perlu kita pahami dan kita perbaiki sebelum mencapai kekhusyuan itu… salah satunya kenali siapa kita yang sedang shalat dan kenali kepada siapa kita menghadap karena shalat itu adalah komunikasi 2 arah bukan 1 arah, selain itu kita juga harus paham tentang apa yang sedang kita komunikasikan…
    Khusyuk adalah anugrah yang diberikan oleh Allah SWT pada hambaNya yang menginginkannya…

    Kalau menurut ana, Nabi terlihat “tidak khusyuk” menurut pandanganh manusia dalam beberapa shalatnya bukan berarti beliau “tidak khusyuk”, hal itu semata-mata untuk memberi pelajaran bagi ummatnya, untuk mengatasi berbagai kemungkinan, karena sesungguhnya Nabi tidaklah berkata kecuali apa yang diwahyuhkan Allah padanya…

    InsyaAllah bisa kita jadikan bahan diskusi suatu saat.

    Syukran wa Jazakallah
    Regard
    U&I

  2. yopie says:

    mau tanya nih tuan kenapa ya masyrakat indonesia yang muslim, tapi nomor wahid dalam nyolong…korusi apa yang salah ya…tuan…

    • erwin says:

      pada sebagian muslim ajaran Agama yang tidak terserap kedalam diri jadi tidak terimplementasikan apa yg diketahuinya. sementara Nyolong atau korupsi itu hal yg dilarang. salam

  3. satria says:

    ijin copy gambar/isi blog nya y.

    wassalam

  4. Titin says:

    Khusyu’, susah-susah gampang…
    Masak ngitung 4 rakaat aja kadang bisa ragu-ragu, padahal ngitung ribuan diluar shalat ga ada masalah. 😀
    Masih harus banyak belajar nih, terimakasih postingannya, InsyaAllah berguna.

    • erwin says:

      Iyya Titin, yang penting bagaimana kita selalu berserah diri padaNya dalam segala aktifitas.. smg Dia melimpahkan pada Kita Khusyu’.. amin.

  5. Herman Laja says:

    Assalamu Alaikum.

    Pertanyaan yang sama pernah terlintas dikepala bahkan saya pertanyakan di depan diskusi PII beberapa tahun lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s