Negara Diri

Negara Diri,
Negara diri
Dunia ini diciptakan dengan berbagai macam perumpamaan-perumpamaan yang saling berasosiasi satu sama lain. Jika kita membaca buku The Tao of Islam alam didefenisikan dalam dua alam jika dikaitkan dengan manusia, ada Makrocosmos (alam besar) dan Mikrocosmos (alam kecil). Dalam pandangan saya apa-apa yang diluar diri manusia merupakan representasi dari diri manusia itu sendiri. Sirkulasi pergerakan alam, pergolakan sosial, bahkan jalannya pemerintahan juga merupakan gambaran peristiwa yang terjadi didalam diri.

“Setiap engkau adalah pemimpin, dan masing-masing diri bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya” sabda Nabi. Pemimpin disini bisa diartikan dalam skala besar negara dan dalam sekala kecil keluarga. Bahkan yang sangat masuk akal juga dalam skala yang terdekat dengan kita sendiri yaitu “diri”.

Demikianlah saya mencoba untuk membahas Judul diatas dengan menyebut diri kita sebagai “Negara Diri”. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita pimpin, bukankah akan datang suatu masa dimana mulut kita dikunci, tidak ada suara dari mulut kita, kemudian tangan, kaki dan semuanya menjadi saksi terhadap perintah pemimpin dalam diri.

Setiap engkau adalah pemimpin, jika kita mencari makna yang sebenarnya dari kata pemimpin disini, dalam kosa kata arab dapat diartikan sebagai penggembala. Semua nabi adalah penggembala, sebagaimana halnya Muhammad Saw, dari kecil beliau adalah penggembala dalam arti beliau telah menjadi pemimpin atas apa yg digembalakannya. Demikian halnya musa dan para nabi yang lain. Gembalaannya disini saya ibaratkan sebagai hawa nafsu yang ada dalam diri, jika hawa nafsu tidak digembalakan dengan baik, maka dia akan merusak tata nilai dan jalannya pemerintahan didalam diri.

Yang menjadi pertanyaan bagaimana agar Negara diri ini menjadi sejahtera, bagaimana menjadikan diri kita menjadi damai. Jawaban sederhananya kita perlu memimpin secara adil dan mengikuti ketentuan yang telah diberikan oleh Tuhan, yaitu mematuhi ajaran agama dan nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci. Sebagaimana firman Tuhan kepada Rasul-Nya bahwa apa yang dikatakan beliau adalah wahyu yang diwahyukan. Setiap Nabi dalam agama samawi pasti diturunkan wahyu baginya sesuai dengan kondisi kepercayaan umat mereka pada saat itu, dan itu berlaku pula sepanjang masa, selama wahyu itu tetap terjaga hingga menjadi kitab suci. Dan Kitab itu mengatur atau memberikan pedoman moral bagi berjalannya suatu negara, apakah itu negara dalam satu pemerintahan masyarakat, negara dalam keluarga kecil dan negara dalam satu pemerintahan manusia individu “Diri”.

Dalam menjalankan pemerintahan diri kita dituntut untuk menggunakan akal, telah banyak ayat bahkan hadist tentang perintah dan pertanyaan Tuhan untuk menggunakannya seperti, “apakah engkau tidak menggunakan akalmu?”, “hanyalah orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”. Tuhan bahkan memberikan posisi derajat yang tinggi bagi orang-orang yang berilmu dan beriman diantara kita.

Akallah yang memberikan perintahnya kepada syaraf-syarafnya melalui singgasananya pada otak kecil didalam kepala untuk melakukan nilai-nilai atau keinginan-keinginan yang diyakini baik untuk kesejahteraan Negara diri. Syaraf merupakan komandan komandan untuk para tentara dalam menjalankan tugas kenegaraannya untuk menjalankan perintah presiden dalam hal ini akal. Namun sang Presiden juga harus memperhatikan perwakilan rakyatnya yang ada pada Majelis Permusyawaratan Hati. Jika suara-suara hati yang keluar adalah suara kebenaran, maka itulah yang dikatakan sebagai Hati nurani. Kemudian dengan Hati Nurani itu sebagai presiden Akal menjalankan tugasnya dengan nilai-nilai yang didapat dari rakyatnya. Sehingga setiap perwakilan nilai akan memberikan kontribusi yang sesuai untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat, bersesuaian dengan nilai-nilai hidup apa yang mereka pilih untuk diperjuangkan dalam pemerintahan diri, serta pemerintahan dalam satu negara yang nyata.

Oleh karena itu untuk memperkokoh nilai-nilai yang baik dalam diri, yang perlu dilakukan adalah terus dan selalu mengambil sumber nilai yg jernih bagi diri, seperti yang ada dalam kitab-kita suci agama sawawi yang murni dan masih tetap terjaga, sebab jika mengambilnya pada sumber yang kotor dan tidak baik hal itu akan mempengaruhi pula kebersihan jalannya kepemimpinan. Dengan demikian kesejahteraan diri dan kesejahteraan rakyat mempunyai satu system cosmos yang mirip.

Dengan kokohnya akal, jika dia memegang prinsip-prinsip yang ada pada sunnatullah dan tidak melanggar aturan agama dan nilai-nilai Universal yang di turunkan Tuhan untuk dijalankan, maka Sang akal atau presiden dalam diri itu sendiri yang akan mengantarkan Negara diri itu kedalam kesejahteraan, kedamaian dan keadilan. Demikianlah idealnya walau tidak pasti selalu sama dengan kenyataan yang kita lihat pada lapangan kehidupan. Namun yang perlu kita lakukan untuk pribadi saya dan rekan-rekan sekalian, mari kita mencoba untuk mendekati Tuhan pencipta alam semesta, agar kita diberi-Nya petunjuk untuk mencerahkan hati sehingga Nurani terang tak terselimuti Kabut kedirian, agar cahayanya terpantulkan pada akal yang tercerahkan sehingga memberikan penerimaan terhadap diri sendiri yang akan membawa perdamaian serta kesejahteraan bagi diri kita..Amin.

”Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar akan bertemu dengan Tuhannya.”(Ar Rum: 8).

Erwin, Bukit Tembang, 9 Juni 2009

Advertisements

About Erwin

Hanya mengikuti air..
This entry was posted in Mengenal Diri and tagged . Bookmark the permalink.

7 Responses to Negara Diri

  1. adie says:

    Mantap tulisannya kanda… Cocok dengan situasi sekarang menjelang Pilpres… Bravo JK-Win….

    Blog ta saya link di tempat saya yah… Biar bisa cepat kalo mau blajar GIS…. heheheh

    Jalan2ki ke blog-ku kalo sempat nah… Thanks

  2. fagustin says:

    makin serius aja.. 🙂

  3. n t a n says:

    jadi ingat sama suatu agama yang mengistilahkan “domba-domba tersesat” pada umat lainnya
    😀

    sudah siap untuk besok?
    😉

  4. erwin says:

    .: adie, sy sudah Link juga die, Bavo ya..!
    .: Fitri, serius sedikit boleh juga toh qiky
    .: ntan, iyya mmg mirip2 tp beda :D, siap lah bu..!

  5. MELYUIS says:

    negara kita perlu dijaga, dalam politik dan dalam kemasyarakatan

    • Erwin says:

      betul.. mari kita jaga, dgn memulai menjaga diri kita sendiri dari pikiran2 negatif yg mengotori jiwa. seperti keinginan2 untuk korupsi dan lain2.

  6. rusle says:

    KEREN!
    terutama karena kitab rujukannya Tao of Islam, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s