Tentang Kimia Cinta

Sahabat, Mungkin sebagian kita tidak menyenangi pelajaran kimia. Demikian pula saya pada awalnya. Pelajaran kimia adalah horor terbesar saya di waktu SMA dan berbanding tebalik dengan fisika yg menjadi favorit. Tetapi setelah memasuki bangku kuliah dan pikiran sedikit terbuka, disela pelajaran ilmu Bumi seolah terispirasi mendapati kenyatataan bahwa Kimia merupakan induk dari ilmu pengetahuan. Kimia bisa dikatakan juga sebagai ilmu tentang perubahan, yang mempelajari tentang semua jenis zat yang berbeda dan bagaimana zat-zat itu berinteraksi satu sama lain. Karena inginnya menyatukan kedua ilmu Kimia dan geologi menjadi geokimia, maka mengambil S2 kimia yg juga merupakan saran dari seorang super Senior adalah pilihan yang tepat pikirku.. 🙂

Mengapa Kimia begitu penting? semua cabang ilmu pengetahuan itu pasti berhubungan dengan kimia. Bahkan di dalam aktifitas keseharian, ketika kita makan, bernafas, dalam bagaimana kita hidup, dan seperti apa bentuk kita.

Nah kita kembali ke judul, apa hubungannya Kimia dan Cinta? secara abstrak sering kita dengar bahasa seperti Kimia Cinta. Yang terakhir ini nampaknya akan lebih menarik jika kita jabarkan lebih panjang.

Sangking luasnya Cinta itu bisa diibaratkan apa saja, bisa emas, perak, intan, air dan lain-lain. Yang jelas dalam pandangan saya dia adalah menjadi satu, itu saja. Persepsi kita boleh dikembangkan kemana saja tentang ini tergantung sudut pandang apa yang kita pakai. Hanya yang perlu di perhatikan adalah bagaimana prosesnya menjadi satu.

Jika kita baratkan Emas, kita menggalinya dialam maka yang akan kita temui adalah sebuah batuan Kuarsit berupa urat yang memanjang mengikuti rekahan. Nah batuan Kuarsit ini belumlah dikatakan emas, sebab banyak unsur-unsur lain yang masih terikat seperti silica dan lainnya. Yang diperlukan adalah bagaimana membuatnya menjadi murni.
Untuk membuatnya murni, kita memerlukan proses kimia yang namanya proses oksidasi yang biasa digunakan oleh pendulang lokal, fungsinya adalah untuk memisahkan oksida-oksida berupa silika ini dari batuan, sehingga pada akhirnya kita hanya akan menemui unsur Au, yaitu Emas yang murni. Dan proses kimia lain namanya Destillasi yang biasa digunakan oleh perusahaan besar, dimana pemisahannya dilakukan dengan cara peleburan dimana pada suhu tertentu unsur Au (emas) akan bersatu. Demikianlah reaksinya mirip dengan menyatunya dua hati, seperti yang sering kita dengar dalam romantisisme kehidupan asmara “ I am get melting of you” yang artinya “aku melebur padamu”.

Jika menjadi bersatu, maka Cinta adalah Reaksi yang menggerakkan kehidupan… Sehingga semua menjadi Hidup dan bermakna, dimana benci adalah reaksi yang mematikan dan membekukan sebuah hubungan.

Seperti cinta Qais kepada laila, seberat apapun halangan yang datang pada mereka hati tetap terpaut, dimanapun Qais berada syair-syair cintanya selalu sampai pada laila yang membuat hati laila semakin jatuh hati dan selalu terpaut pada Qais. Demikian pula dengan cinta yang agung Rabiatul adawiyah kepada Tuhannya, tak pernah lepas ia mengingat-Nya, setiap hari hanya berserah pada-Nya, sehingga Rabiah beribadah bukan karena takut neraka atau karena ingin masuk syurga, tetapi hanya karena Cinta yang dalam pada-Nya.

Dengan demikian, apa yang membuatnya bersatu ? jawabnya adalah sebuah reaksi yang namanya komunikasi. Dimana-mana pertemuan dua hati pasti di mediasi oleh komunikasi, bisa dalam bentuk apapun, verbal non verbal, melalui pihak ketiga dan media-media yang lain. Memutuskan komunikasi hampir sama halnya dengan memutuskan suatu hubungan sehingga muncul senyawa yang lain mengotori, tanpa ada komunikasi maka semuanya akan hambar. Komunikasi disini dimaksudkan adalah komunikasi yang baik dan dari hati ke hati. Sehingga timbul kepahaman dan mengetahui porsi masing-masing. Jika dalam proses destillasi (dalam peleburan emas) diperlukan titik didih tertentu untuk membuatnya bersatu, demikian pula dengan hubungan diperlukan titik dimana kita bisa saling memahami dan mengerti kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan yang membuatnya menuju pada titik itu adalah “komunikasi yang baik”.

Aku seperti udara,
yang tersebar mengangkasa,
Aku hilang dalam terang,
Sebab aku adalah Cahaya.
Seperti eter dimana-mana.

dimanakah udara,
dimanakah cahaya,
yang ada hanyalah satu.

Ini bukan cerita tentang kisah The Alchemy-nya Paolo Chelho yg bercerita tentang seorang guru yang mengubah pasir menjadi emas. Tetapi hanya coretan sederhana untuk memaknai kehidupan.

Jadi, sahabat.. sudahkah kita belajar Hikmah dari Ilmu Kimia,Cinta dan Komunikasi? 🙂

Erwin, Jizan, Saudi Arabia

Advertisements

About Erwin

Hanya mengikuti air..
This entry was posted in Mengenal Diri and tagged . Bookmark the permalink.

10 Responses to Tentang Kimia Cinta

  1. fadhliyah says:

    sudah P’ Guru ^^d

  2. indRa says:

    KyaKnya baKal lanjut ke s3 lg neh kaNda…

  3. wahyuni says:

    sahabat,sy sebagian org yg menyenangi Kimia sejak SMA..
    krn mau gak mau harus…hehe (alumni……)..

  4. indRa says:

    wah hebat,,,
    Tulisant’ ini sampai di posting di grupnya mahasiswa kimia unhas oleh si juniorku… Ntahlah ktemu di mana, bravo kak erwin!

  5. aRuL says:

    posting mencerahkan, seharusnya ini dibaca para galauers yg sedang bermasalah dg cintanya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s