Badai pasir yang datang menyapa …

Malam ini langit ditutupi awan kelabu, mendapati kabar dari belahan dunia selatan sedikit ke timur, bahwa purnama indah sempurna. Ingin menikmati purnama itu, namun tidak untuk malam ini.

Sore tadi masih terbayang, badai gurun itu datang lagi menyapa. Tak ada pesan tiba tiba saja datang dari arah timur.

Angin berdesir kencang, suara pasir menderu, aku membuka tirai jendela yang dilapisi kaca, tampak sekumpulan pasir dan debu kecoklatan itu tertiup cepat sekali sehingga tak mampu dikuti oleh mata, hingga kamar didepan kantor nyaris tak tampak semuanya Nampak coklat mengabur. Pintu yang sudah rapat itu kami beri palang lagi. Debu tetap saja masuk kedalam, dan kantor ini seolah olah akan terangkat.  Kami masih di kantor sore itu, sehabis melakukan Fire Drill, salah satu drama tentang kebakaran yang seolah olah terjadi, namanya juga drama. Tak disangka, tak dikira, angin kencang badai pasir itu datang lagi. Kami bertiga di dalam, lalu aku dan seorang teman itu mengambil Helmet ketika terasa ruangan mulai sedikit bergoncang. Kemudian teman yang satunya mengambil masker untuk kami bertiga, agar debu tak leluasa masuk melalui hidung. Listrik  masih menyala, demikian juga computer dan laptopku. Debu mulai masuk kedalam ruangan melalui bawah celah pintu. Laptop kututupi kertas agar debunya tidak masuk kedalam.

Sekitar hampir sejam, bunyi desiran berganti rintikan, dan hujan membasahi bumi. Peristiwa ini sama seperti beberapa hari yang lalu. Hanya saja beberapa hari lalu badai itu datang dari arah selatan.

Hujan membasahi bumi, kulihat keluar melalui jendela yang dilapisi kaca bagian belakang kantor. Kamar itu sudah tampak dan jernih, tak seperti tadinya saat badai menerjang. Hampir sejam lamanya.

Pagi harinya, menjelang meeting seperti biasa, kami kumpul di tengah lapangan basket  yang luas itu, untuk meeting harian,  sejenis briefing kita menyebutnya Toolbox meeting. Saya bercerita pada mereka buruh dan supir yang kebanyakan datang dari Nepal dan India serta beberapa orang Saudi “last day I lost my Sandal…”, dan satu orang menimpali “I lost my sandals too”. Dan ternyata memang banyak sandal yang hilang. Hmm…, bagian kiri Sandal kesukaanku ikut terbawa angin pasir entah kemana. Tahun lalu bersama sabahat seorang Senior pecinta alam membawaku ketoko perlengkapan alat-alat pendaki gunung di jalan Lagaligo, brandnya “outdoor” salah satu merek yang banyak disukai oleh para pecinta alam.

Sepagi paginya aku bangun, setelah sholat subuh keliling mencarinya. Belum juga ketemu.  Semalam sempat aku temui satu sandal putih tidak terlalu jauh di dekat kamarku. Entah datangnya darimana dan punya siapa, tiba-tiba saja ada ditempat itu,tampak dekil, basah dilapisi pasir-pasir, warnanya putih. Tak ada jalan lain pikirku, aku harus pake sandal ini sebagai pengganti yang hilang itu untuk sementara waktu.

Ingin sedikit bercerita tentang badai ini. Badai pasir umumnya terjadi di daerah Desert atau daerah yang kering dimana kurang di jumpai adanya vegetasi. Kecepatan angin meningkat pada wilayah berpasir yang luas, yang dapat memindahkan bukit pasir pada daerah yang kering, sehingga tepi badainya nampak seperti dinding yang berwarna coklat setinggi lebih dari 1 kilometer dan bergerak dengan cepat. Di Arabian desert lazim terjadi badai seperti ini jika musim panas menjelang, pada masa-masa transisi.

Namun, sedasyat apapun badainya.. Insya Allah semua pasti berlalu..

(bersambung)

Erwin, Jizan, Saudi Arabia

Advertisements

About Erwin

Hanya mengikuti air..
This entry was posted in Kelahiran and tagged . Bookmark the permalink.

12 Responses to Badai pasir yang datang menyapa …

  1. poppy^.^ says:

    ahahahahaha..
    xixixixixixi..
    biasaji hilang sendal ta di masjid toh??
    Allah mau ingatkanki dgn masa” hilangnya sendalta..

    ^.^

    • Erwin says:

      iyya.. pernah Hilang, tapi adaji gantinya juga.., biasanya gantinya lebih udik satu pasangji, tapi ini.. hilangnya cuman satu.. jd aneh pake yg bukan pasangannya.. 😀

  2. daengrusle says:

    Wah ngeri ya keliatan, tp indah juga fotonya.
    Disini, sbnrnya saya jarang liat padang pasir. Adanya hutan beton saja, dan sandstorm biasanya datang membuat gelap langit kota…
    Skrg di Abudhabi sdh jarang sand storm, krn sdh musim panas mi. 46derajat boo…hahahaha

    • Erwin says:

      Iyya agak ngeri juga 🙂 . fotonya ini di ambil setelah Badai jadi tampak tenang. disini di Jizan skrg suhu 35 derajat. kita beda 11 derajat, panas amat tuh disana ya.. 😦

  3. indobrad says:

    saya cuma pernah liat videonya. memang seram juga ya 😀

  4. aRuL says:

    semoga keadaan saudi di sana baik2 saja, utk daerah kota masih aman kan?

    eh fotonya cantik banget, sendu2 tapi memikat 😉

  5. putri sasha says:

    serasa membaca novel… settinganya, describsinya, alurnya pake bersambung lagi 😉 jadi penasaran
    ditunggu nih sambungannya, akan kah karakter favorit kita ketemu lagi sendal nya yang sbelah lagi =))

    ah begitu piawai, meski badai pasir in actionnya terdengar *terbaca sih harusnya @.@* merepotkan dan rusuh (apa coba pemilihan bahasanya) namun membaca ini justru menyenangkan, like i have said, like reading novel.. ayoo di lanjut rumi 😉

    • erwin says:

      wah seperti membaca novel ya.., kalau boleh bilang ini Novel kehidupan.. hehe. mudah-mudahan tokoh utamanya bisa menemukan sendalnya kembali :p . thx Sasha.

  6. eko says:

    waw … badai ngerinya itu, biasanya di indonesia badai air, disana pasir di.

    pokoknya salam dari makassar deh, saya kira kita dekatan dengan derus di sana .. jauh toh 🙂 ternyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s